Logo Muktamar NU ke-35
← Semua berita
liputan · 21 Agustus 2026

KH Abdul Wahab Chasbullah Dianugerahi Gelar Bapak ISHARI NU

Penganugerahan gelar diberikan oleh Pimpinan Pusat Ikatan Seni Hadrah Indonesia (PP ISHARI) atas jasa besar KH Wahab Chasbullah membina serta memasukkan jam'iyyah seni hadrah ke dalam struktur resmi PBNU.

Rep. Saiful

Red. Cak / Fajar

Penyerahan penghargaan Bapak Ishari Nahdlatul Ulama kepada ahli waris KH Wahab Chasbullah di acara Istighosah dan Doa Bersama Sukses Muktamar ke-35 NU Jombang
Penyerahan penghargaan Bapak Ishari Nahdlatul Ulama kepada ahli waris KH Wahab Chasbullah di acara Istighosah dan Doa Bersama Sukses Muktamar ke-35 NU Jombang

JOMBANG - Pendiri Nahdlatul Ulama, KH Abdul Wahab Chasbullah (Mbah Wahab), mendapat anugerah gelar sebagai "Bapak ISHARI Nahdlatul Ulama".

Penganugerahan gelar tersebut diberikan oleh Pimpinan Pusat Ikatan Seni Hadrah Indonesia (PP ISHARI) atas jasa besar Pahlawan Nasional tersebut dalam membina serta memasukkan jam'iyyah seni hadrah ke dalam struktur resmi organisasi NU.

Penghargaan diserahkan langsung oleh pengurus PP ISHARI kepada salah satu putra Mbah Wahab, KH Hasib Wahab Chasbullah (Gus Hasib). Proses serah terima penghargaan berlangsung di sela-sela kegiatan Istighosah dan Doa Bersama Sukses Muktamar ke-35 NU di Gedung Serbaguna KH Hasbullah Said, Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Kamis (20/8/2026) malam.

Mewakili keluarga besar Mbah Wahab, Gus Hasib mengucapkan terima kasih atas penganugerahan kehormatan tersebut. "Semoga penghargaan ini membawa berkah, ISHARI makin besar dan jaya," ujar Gus Hasib.

Acara penganugerahan dan doa bersama ini berlangsung semarak dan khidmat, dihadiri oleh ribuan warga Nahdliyin, santri, jemaah ISHARI, hingga masyarakat umum.

Sejumlah tokoh utama PBNU turut hadir di lokasi yang nantinya dijadikan arena persidangan Pleno Muktamar tersebut. Selain Rais 'Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, hadir juga Sekretaris Jenderal PBNU Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, serta sekretaris Steering Committee (SC) Muktamar Prof. Muh. Nuh.

Tampak hadir pula jajaran pengasuh Pesantren Tambakberas seperti KH Abdurrozaq Sholeh Gus Rozaq, serta jajaran Pengasuh pesantren dan Pengurus Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.

Jejak Sejarah Mbah Wahab Merangkul ISHARI

Penganugerahan gelar ini memiliki pijakan sejarah panjang. Mbah Wahab menilai tradisi majelis selawat Terbang Abdurrahim, yang didirikan oleh Kiai Abdurrohim bin Abdul Hadi asal Pasuruan, sebagai sarana dakwah yang sangat potensial, masif, dan mengakar kuat di tengah masyarakat.

Tepat pada 23 Januari 1959, Mbah Wahab menginisiasi untuk memboyong Jam'iyyah Hadrah tersebut ke dalam naungan resmi NU dengan menggagas nama Ikatan Seni Hadrah Republik Indonesia (ISHARI).

Langkah ini diambil untuk memperkuat rasa cinta kepada Nabi Muhammad SAW sekaligus membentengi umat melalui seni budaya Islam.

Dalam merintis kelahirannya, Mbah Wahab melibatkan sejumlah tokoh ulama terkemuka PBNU, di antaranya KH Bisri Syansuri, KH Syaifuddin Zuhri, KH Ahmad Syaiku, serta KH Muhammad bin Abdurrokhim.

Keseriusan Mbah Wahab berlanjut pada Agustus 1961 melalui surat bertulis tangan kepada KH Muhammad bin Abdurrokhim untuk membentuk Pengurus Pusat ISHARI yang berkedudukan di Surabaya.

Langkah historis tersebut memuncak dalam musyawarah para ulama dan tokoh hadrah se-Jawa Timur pada September 1961. Musyawarah itu menetapkan Mbah Wahab sebagai Pembina dan Pelindung, serta KH Muhammad bin Abdurrokhim sebagai Ketua.

Masuk Struktur Syuriyah hingga Menjadi Banom NU

Pengakuan ISHARI di dalam struktur jam'iyyah kian menguat saat Mbah Wahab bersurat kepada Panitia Muktamar ke-23 NU di Surakarta (Solo) agar kesenian hadrah diberikan ruang tampil.

Pada muktamar di Solo tersebut, ISHARI secara resmi ditetapkan berada di bawah pembinaan Pengurus Syuriyah NU. Setelah perjalanan panjang, ISHARI akhirnya secara resmi disahkan menjadi salah satu Badan Otonom (Banom) NU pada Muktamar ke-34 NU di Lampung tahun 2021.

Seni ISHARI sendiri memiliki keunikan khas, yaitu memadukan syair mahabbah (cinta) kepada Rasulullah SAW dengan konfigurasi gerak tari rodad serta tepukan tangan rancak yang sarat nilai spiritual.

Melalui perjuangan Mbah Wahab beserta para putra pendiri ISHARI, seni budaya keagamaan ini terus berkembang pesat mulai dari Pasuruan, Jombang, Surabaya, Madura, hingga menyebar ke berbagai pelosok Nusantara.

Penulis: Moh. Syafi'I