Gus Dur dan Humor Muktamar: Ketika Guyonan Menjadi Kenyataan
Humor yang seringkali dilontarkan Gus Dur berangkat dari kultur tradisi pesantren dan Nadhatul Ulama.
Rep. Saiful
Red. Cak / Fajar
DARI sekian banyak kelebihan yang dimiliki Gus Dur, masyarakat umumnya lebih ingat humor-humor yang seringkali dilontarkan, baik saat berada di atas panggung atau saat santai dengan seseorang.
Gus Dur dan humor adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. Bagai sisi mata uang yang berdampingan, humor menjadi ciri khas Gus Dur dalam segala kondisi apapun. Bahkan tak jarang dalam pertemuan atau kegiatan formal yang seringkali sangat tegang dan mencekam dengan lihainya Gus Dur masih melemparkan humor untuk mencarikan suasana.
Konon, humor yang seringkali dilontarkan oleh Gus Dur berangkat dari kultur tradisi pesantren dan Nadhatul Ulama yang sangat melekat. Dalam lingkungan pesantren dan NU, humor sudah dianggap sebagai makanan sehari-hari yang menyertai kehidupan. Dalam berbagai kesempatan, seringkali kita lihat kiai-kiai NU saat memberikan tausiyah biasa melempar humor-humor yang segar.
Humor yang disajikan oleh Gus Dur dapat menembus sekat-sekat yang artinya dapat dinikmati oleh berbagai kalangan masyarakat. Mulai dari rakyat biasa, tokoh bangsa, penjabat negara sampai pada pemimpin dunia seperti Presiden AS Bill Clinton, Presiden Prancis Jacques Chirac. Bahkan Raja Fahd Saudi dan presiden Kuba Fidel Castro, yang terkenal tidak murah senyum bisa tertawa terpingkal-pingkal di hadapan Gus Dur.
Mendekati momentum muktamar salah satu humor Gus Dur yang dikenal adalah saat NU menggelar Muktamar ke-29 di Cipasung, Tasikmalaya pada tahun 1994. Kala itu Gus Dur tidak disukai oleh Presiden Soeharto karena dianggap sering mengkritik kebijakan pemerintah orde baru.
Penyebab lain, seperti ditulis oleh Adam Swarcht dalam bukunya Waiting fot Nation, Gus Dur menilai Pak Harto "bodoh" sehingga ketika Muktamar dibuka, Gus Dur tak boleh duduk mendampingi Pak Harto. Gus Dur disingkirkan ke deretan kursi paling belakang Bersama Megawati Soekarnoputri (Ketua Umum PDI) kala itu. Tokoh-tokoh yang mendampingi Pak Harto hanya KH Ilyas Ruchiyat dan Rozy Munir.
Begitu pula setelah acara pembukaan selesai dan Pak Harto istirahat di aula STAI Cipasung diiringi Kiai Ilyas Ruchiyat, Gus Dur tidak boleh masuk, melainkan berdiri saja di halaman.
Seketika itu para wartawan langsung mengerubungi Gus Dur sambil bertanya, "Gus, nggak boleh dekat-dekat presiden ya?"
“Ah, nggak masalah,” Jawab Gus Dur cuek.
"Nggak masalah gimana, Gus?" tanya wartawan menimpali.
"Daripada mikirin ingin dekat-dekat presiden, lebih baik jadi presiden sekalian nanti," ucap Gus Dur mantap.
Selorohan Gus Dur yang menjadi guyonan ternyata menjadi sebuah kenyataan. Tepat lima tahun kemudian yaitu pada 1999, secara demokratis, Gus Dur terpilih menjadi Presiden ke-4 Republik Indonesia.
Oleh: Dimas Setyawan Saputro