4 Pesantren Besar di Jombang yang Melahirkan Para Tokoh Nasional
Di Jombang ada empat pesantren besar yang sangat berpengaruh, yaitu Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Pesantren Tebuireng, Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar, dan Pesantren Darul ‘Ulum Rejoso
Rep. Saiful
Red. Cak / Fajar
KEBERHASILAN Jombang melahirkan tokoh-tokoh bangsa yang berpengaruh tidak terlepas dari peran dan keberadaan pondok pesantren yang tersebar di beberapa penjuru Kota Santri.
Pondok-pondok pesantren tersebut ada yang telah mencapai usia satu abad dan dua abad. Berikut empat pondok pesantren besar di Jombang yang telah melahirkan para tokoh bangsa, dilansir dari berbagai sumber, Rabu (26/8/2026).
1. Pondok Pesantren Bahrul Ulum
Cikal bakal Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas bermula dari sosok KH. Abdus Salam yang lebih dikenal dengan nama Mbah Shoicha. Beliau berdakwah di pondok pesantren kecil yang didirikan dengan bilik-bilik anyaman bambu. Kala itu, tahun 1838, masyarakat menyebutnya dengan Pondok Selawe, dikarenakan jumlah santri yang berjumlah 25.
Saat memasuki usia senja, KH. Abdus Salam menyerahkan estafet tampuk pimpinan Pondok Selawe kepada menantunya yang juga santri didikannya. Kedua menantunya tersebut adalah Kiai Utsman dan Kiai Sa'id. Setelah Kiai Utsman dan Kiai Sa'id wafat, yang meneruskan tampuk pimpinan pesantren adalah Kiai Hasbullah, putra Kiai Sa'id. Sedangkan pesantren Kiai Ustman tidak ada yang meneruskan karena tidak mempunyai anak laki-laki.
Dibawah pimpinan Kiai Hasbulloh pondok pesantren berkembang sangat pesat. Kyai Hasbulloh sendiri memiliki seorang putra yakni Abdul Wahab. Pada tahun 1914 sepulang dari belajar di Mekkah Kiai Abdul Wahab mulai melakukan pembaharuan pondok pesantren Tambakberas. Beliau mengubah sistem pendidikan halaqoh menjadi sistem pendidikan madrasah. Pada tahun 1915 kyai Abdul Wahab mendirikan madrasah yang pertama, madrasah tersebut diberi nama madrasah Mubdil fan.
Pada 29 Desember 1971 Kiai Abdul Wahab wafat, pimpinan pondok pesantren Bahrul Ulum diteruskan KH. Abdul Fattah dibantu oleh para dzurriyah Bani Hasbulloh yang lain. Pada tahun 1974 Kiai Abdul Fattah mulai merintis Perguruan Tinggi yang diberi nama Al-Ma'had Al-Aly.
Pada tahun 1977 tampuk kursi kepengasuhan dilanjutkan oleh KH.M. Najib Abd. Wahab, L.ML. KH.M. Najib Abd. Wahab, L.ML memiliki reputasi cemerlang dalam membawa lembaga pondok pesantren Bahrul Ulum pada pentas nasional. Selain pernah menjabat sebagai pengurus PBNU, hingga pada tahun 1987 beliau wafat, sejak saat itu pondok pesantren Bahrul Ulum diasuh dengan menggunakan sistem kepemimpinan kolektif.
Adapun saat ini Pondok Pesantren Tambakberas terkenal dengan spesialisasi kuat pada kajian ilmu fikih, syariat Islam klasik, serta pendalaman kitab kuning. Dan sosok yang dikenal oleh banyak orang adalah KH. Wahab Chasbullah yang atas jasanya turut andil dalam pendirian NU, menjadi diplomat ulung dan ikut mempertahankan kemerdekaan, beliau mendapatkan penagurahaan sebagai Pahlawan Nasional.
2. Pondok Pesantren Tebuireng
Pesantren Tebuireng adalah salah satu pesantren terbesar dan memiliki pengaruh besar di Jombang. Lokasinya berada di selatan kota Jombang, Jawa Timur. Adapun pendiri Pesantren Tebuireng adalah Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari pada 26 Rabiul Awal 1317 H, yang bertepatan dengan 03 Agustus 1899 M. Dan diakui secara resmi oleh Pemerintah Belanda pada 06 Februasi 1906 M. Sosok Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari yang juga beliau dikenal sebagai pendiri organisasi Islam terbesar di dunia, yakni Nadhatul Ulama (NU). Di satu sisi beliau juga dikenal luas sebagai sosok Bapak Umat Islam Indonesia serta Peletak Batu Kemerdekaan Indonesia.
Merujuk data dari Pemerintah Jepang, tepatnya pada tahun 1942, jumlah santri dan ulama di Pulau Jawa 25.000 orang. Kesemuanya pernah menyantri di Tebuireng. Diantara santri Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari yang dikemudian hari menjadi ulama besar, pendiri, dan pengasuh pondok, misal, KH. Wahab Hasbullah (juga pernah menjadi lurah di Pondok Pesantren Tebuireng), KH. Bisri Syansuri, Pendiri PP. Denayar, KH. Chudori pendiri PP. Tegalrejo, KH. Abdul Karim pendiri PP Lirboyo, KH. As’ad Syamsul Arifin.
Pada tahun 1919 melalui KH. Abdul Wahid Hasyim, Pesantren Tebuireng mengadakan sistem pendidikan formal, yang kala itu disebut dengan Madrasah Nihzamiyah. Dalam pendirian Madrasah Nizhmiyah, KH. Abdul Wahid Hasyim tidaklah seorang diri, tapi dibantu oleh keponakannya, yakni KH. Muhammad Ilyas. Madrasah Nizhamiyah. Artinya, Pesantren Tebuireng sejak dahulu memang selalu tampil dinamis dalam menjawab tantangan zaman.
Saat ini Pesantren Tebuireng di bawah asuhan KH. Abdul Hakim Machfudz, terus merawat peninggalan-peninggaan dari para pendahulunya, terutama Gus Sholah. Beliau juga banyak mengembangkan lembaga yang dapat menunjang kualitas di Pesantren Tebuireng, seperti mendirikan Tebuireng Institute For Islamic Studies, yang mana lembaga ini bergerak pada kajian-kajian pemikiran dari Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari.
Pesantren Tebuireng juga saat ini memiliki spesialis dalam kajian Hadis. Kajian hadis ini didukung dengan tradisi pengajian kitan Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim yang sudah ada sejak zaman Hadratusyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari. Selai itu, kajian hadis ditompang penuh dengan keberadaan Ma’had Aly Hasyim Asy’ari yang konsentrasinya pendalaman Hadis.
Pesantren Tebuireng juga dikenal dengan keberadaan beberapa tokohnya yang telah turut berkontribusi terhadap kemerdekaan Indonesia, yakni Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari dan KH. Abdul Wahid Hasyim. Kedua tokoh ini menjadi Pahlawan Nasional atas jasanya terhadap Indonesia. Selain itu pula ada sosok KH. Abdurahman Wahid (Gus Dur) yang pernah menjadi Presiden RI.
3. Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar
Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif didirikan oleh KH. Bisri Syansuri pada tahun 1917 di Desa Denanyar, Kecamatan Jombang, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. KH. Bisri Syansuri adalah salah satu ulama besar yang turut serta mendirikan Nahdlatul Ulama (NU) bersama KH. Hasyim Asy'ari dan KH. Wahab Chasbullah. Pesantren ini lahir sebagai upaya mencetak generasi muslim yang berpegang teguh pada ajaran Islam Ahlussunnah wal Jama’ah dengan kombinasi antara pendidikan agama dan pendidikan formal.
Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif terletak di Desa Denanyar, sekitar 3 km dari pusat Kota Jombang. Pesantren ini menjadi salah satu pusat pendidikan Islam terkemuka di kawasan Jawa Timur.
Pesantren ini dikenal dengan pendekatan moderat dan inklusif dalam mengajarkan Islam, sesuai dengan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama'ah. Pesantren ini juga aktif berperan dalam pembangunan masyarakat sekitar. Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif telah menjadi salah satu pesantren besar yang tidak hanya berkontribusi dalam mencetak generasi alim ulama, tetapi juga pemimpin bangsa yang berkarakter.
Pondok Pesantren Denanyar juga dikenal sebagai pelopor dari pendirian Pondok Pesantren Putri pertama di Indonesia. Sosok pendirian Pondok Putri pertama tersebut adalah Nyai Nur Khodijah Chasbullah beserta suaminya KH Bisri Syansuri, salah satu dari muassis Nahdlatul Ulama (NU). Nyai Nur Khodijah sendiri adik kandung dari KH Wahab Chasbullah. Beliau menikah dengan Mbah Bisri pada tahun 1914 di usia 22 tahun. Setelah itu pasangan suami istri itu tidak langsung mendirikan pondok, akan tetapi berkhidmah dahulu di Pondok Tambakberas yang waktu itu diasuh oleh kakaknya KH Wahab Chasbullah selama kurang lebih tiga tahun. Setelah tiga tahun berlalu, tepatnya pada tahun 1917 mereka berdua diberi sebidang tanah di Desa Denanyar yang jaraknya tidaklah jauh dari Tambakberas. Dan di tahun yang sama akhirnya Pondok Denanyar berdiri.
Berkat kegigihan dan riyadhah (tirakat) yang kuat, dua tahun setelahnya berdirilah pondok pesantren putri pertama di Indonesia. Dengan tujuan agar anak-anak perempuan di kala itu mendapatkan hak pendidikan yang sama dengan laki-laki. Inilah perjuangan Nyai Nur Khodijah yang sama dengan perjuangan Kartini, yakni mengangkat harkat dan martabat wanita. Saat ini, Pondok Pesantren Denanyar memiliki fokus terhadap pendalam kitab kuning khususnya pada pendalaman kajian fiqih.
Kajian fiqih dan ushul fiqih yang ada di Pondok Pesantren Denanyar diperkuat dengan adanya perguruan tinggi Ma’had Aly Mamba’ul Ma’arif. Hal tersebut terlihat dari visinya yakni sebagai pusat pengkaderan fikih, yang mampu melahirkan generasi-generasi yang berkompeten untuk menjawab tuntutan zaman. Dan sosok yang terkenal oleh kalangan luas dari Pondok Pesantren Denanyar adalah KH. Bisri Syansuri, yang saat ini sedang diusulkan mendapatkan gelar pahlawan nasional, atas jasanya dan kontribusinya kepada Bangsa Indonesia.
4. Pondok Pesantren Darul ‘Ulum Rejoso
Sejarah pendirian Pondok Pesantren Darul ‘Ulum Rejoso bermula dari dua sosok ulama besar yakni, KH. Tamim Irsyad dan KH. Cholil sebagai mitra kerja dan sekaligus menjadi menantunya. Beliau menanamkan jiwa Islam yang diaktualkan dalam bentuk sikap dan perbuatan yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Berdirinya Pondok Pesantren Darul ‘Ulum bermula dari kedatangan KH. Cholil Bangkalan ketika beliau datang ke Jombang demi memperbaiki keadaan ekonomi keluarga KH. Tamim yang memiliki hikmah besar dalam meneruskan tradisi pengajaran yang pernah ia terima. Ditemukanlah desa Rejoso, tempat yang secara naluriah keagamaan KH. Tamim amat representatif sebagai lahan perjuangan menegakkan agama Islam.
Alasan lain dipilihnya Desa Rejoso adalah karena tempat ini banyak dihuni oleh masyarakat yang jauh dari nilai-nilai ajaran agama Islam. Mereka adalah manusia jahat yang sering melakukan keonaran tanpa memperhitungkan hak-hak manusia. Mereka adalah manusia yang tidak memperhatikan tata krama pergaulan hidup dalam kebersamaan.
Untuk itulah dua kiai ini membutuhkan modal yang kuat demi terlaksananya cita-cita membangun masyarakat yang berbeda sama sekali dengan bentuk masyarakat yang ada di situ. Modal tersebut memang telah dimiliki olehnya. KH. Tamim Irsyad adalah ahli dalam syariat Islam di samping memiliki ilmu kanuragan kelas tinggi, demikian pula KH. Cholil merupakan pengamal ilmu tasawuf di samping memiliki bekal ilmu syariat Islam pada umumnya beliau waktu itu telah dipercaya oleh gurunya untuk mewariskan ilmu tarekat qodiriyah wannasaqbandiyah-nya kepada orang yang berhak menerimanya, dengan kata lain beliau berhak sebagai Al-Mursyid(guru petunjuk dalam dunia tarekat).
Pada tahun 1938 M didirikanlah sekolah klasikal yang pertama di Darul Ulum yang diberi nama Madrasah Ibtidaiyyah Darul Ulum. Sebagai tindak lanjut sekolah tersebut pada tahun 1949 M didirikan arena belajar untuk para calon pendidik dan da’wah dengan nama Madrasah Muallimin (untuk siswa putra) dan pada tahun 1954 didirikan sekolah yang sama untuk kaum putri. Selain madrasah-madrasah tersebut terdapat keluarga besar Darul Ulum yaitu Jam’iyah Tarekat Qadiriyah wan Naqsyabandiyah yang jamaahnya datang dari berbagai kota di Nusantara. Ribuah jamaah tarekat ini mengadakan pertemuan khusus tiga kali dalam setahun yaitu pada pada bulan sya’ban.
Setelah Kiai Dahlan dan Kiai Romly wafat pada tahun 1958, kemudian KH Ma‘shum Cholil wafat pada tahun 1961, kepemimpinan Pesantren dipegang oleh KH Musta’in Romly dan dibantu oleh saudara-saudaranya.
Kiai Musta’in Romly tidak hanya memodernisasi pesantren namun juga mendirikan lembaga pendidikan tinggi. Sebagaimana para pendahulunya, Kiai Musta’in Romly juga sangat aktif dalam gerakan tarekat. Salah satu kekhasan pesantren Darul Ulum adalah para Kiai-nya memperkenalkan praktik tarekat kepada para santri.
Kendati para santri tidak diwajibkan menjadi anggota tarekat, pengenalan praktik tarekat menjadi bagian dari program-program pesantren. Pada tahun 1965 di Darul Ulum didirikan Universitas Darul Ulum dan menjadi universitas ternama di bawah lingkungan pesantren di masanya. Universitas Darul Ulum memiliki berbagai fakultas, di antaranya: Fakultas Alim Ulama, Fakultas Hukum, Fakultas Sosial Politik dan Fakultas Pertanian. Di masa sekarang, Pondok Rejoso tidak hanya menyelengarakan pendidikan diniyah, namun juga mendirikan SMA, SMEA, SMK, dan Akademi Perawatan.
Adapun sosok sentral dan terkenal dari Pondok Pesantren Darul Ulum adalah, KH. Romli Tamim. Beliau adalah sosok ulama besar, ahli ilmu tauhid dan fikih, serta pengasuh sekaligus salah satu tokoh yang membesarkan Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso di Jombang. Beliau adalah sosok yang mengarang kitab “al-Istighatsah bi Hadrati Rabb al-Bariyyah” yang berisi bacaan wirid istghosah yang banyak diamalkan oleh warga Nadhliyin.
Penulis : Dimas Setyawan Saputro