1.000 Porsi Kikil Favorit Gus Dur Dipesan untuk Muktamar ke-35 NU
Setelah Gus Dur wafat pada 30 Desember 2009, para santri ndalem berinisiatif mengusulkan penambahan nama "Kesukaan Gus Dur" pada Warung Abang.
Rep. Saiful
Red. Cak / Fajar
JOMBANG – Menghadiri perhelatan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang, Jawa Timur, rasanya belum lengkap jika tak menyempatkan diri melipir ke kawasan Balongbesuk, Kecamatan Diwek.
Jalur utama menuju Kompleks Pesantren Tebuireng dan Makam KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini akrab dijuluki warga lokal sebagai "Gang Kolesterol", sebuah gurauan hangat lantaran berderetnya para penjual nasi lodeh kikil sapi di sepanjang jalan.
Di antara jajaran kuliner yang menggugah selera seperti Warung Kikil Bu Tandur hingga lapak pedagang lainnya, ada satu destinasi yang menjadi magnet utama peziarah dan warga Nahdliyin, yakni Warung Abang "Kesukaan Gus Dur".
Semerbak bau gurih santan rempah dan aroma khas kikil goreng senantiasa menyeruak lembut dari dapur warung legendaris tersebut.
Nama "Kesukaan Gus Dur" yang disematkan pada warung ini bukan sekadar gimik pemikat pembeli. Siti Munawaroh, pengelola warung, menceritakan bahwa Presiden ke-4 RI tersebut sudah berlangganan sejak usaha kuliner ini dikelola oleh generasi terdahulu.
Usaha keluarga ini mulanya dirintis oleh pasangan Haji Latif dan Hajah Sampurni, lalu diteruskan oleh orang tua Munawaroh, yakni Haji Erman (Cak Man) dan Hajah Siti Qoirumlah. Saat ini, pengelolaan warung dipegang oleh Munawaroh bersama dua saudaranya, Siti Munazilah dan Muhammad Idris.
Ada cerita unik di balik kegemaran kuliner Sang Guru Bangsa. Sewaktu singgah, Gus Dur kerap memanjakan lidahnya dengan memesan kikil goreng dan lidah sapi yang disiram kuah lodeh santan pedas gurih.
Menariknya, cucu pendiri NU tersebut kerap melahap sajian favoritnya tanpa nasi alias digado. Baik sebelum maupun sesudah menjabat sebagai presiden, Gus Dur hampir selalu memboyong rombongan besar penderek atau santri ndalem tiap kali mampir.
Setelah Gus Dur wafat pada 30 Desember 2009, para santri ndalem berinisiatif mengusulkan penambahan nama "Kesukaan Gus Dur" pada Warung Abang.
Usul ini kemudian direstui oleh pihak keluarga Tebuireng sebagai bentuk penghormatan dan kenang-kenangan. Momen penambahan nama itu menjadi titik balik yang membuat warung tak pernah sepi dari peziarah yang ingin bernapak tilas menikmati hidangan kegemaran almarhum.
Guna menyambut gelombang muktamirin dan peninjau dari berbagai daerah, jam operasional warung disesuaikan menjadi lebih awal, yakni mulai pukul 15.00 hingga 24.00 WIB, atau bisa tutup lebih cepat jika stok habis.
Munawaroh menuturkan, momentum Muktamar ke-35 NU di Jombang kali ini pun turut melipatgandakan kesibukan pengelola warung.
Bahkan, pada 29 Agustus 2026 mendatang, warung dipastikan tutup sementara untuk pelayanan umum. Ia dan keluarganya akan fokus menyiapkan pesanan khusus sebanyak 1.000 porsi kikil untuk keperluan agenda Muktamar NU.
“Insya Allah kita buka jam 3 sore. Tutupnya menyesuaikan, bisa sampai jam 12 malam. Tapi nanti tanggal 29 kita tutup karena ada pesanan untuk acara Muktamar,” ungkap Munawaroh.
Bagi para muktamirin yang ingin memanjakan lidah usai mengikuti rangkaian forum, menikmati semangkuk lodeh kikil empuk ini tentu menjadi agenda wisata kuliner yang tak boleh terlewatkan.
Penulis : Moh. Syafi’I